Cara Investasi Reksa Dana Mulai dari Rp100.000


 Blog Sittakarina - Cara Investasi Reksa Dana

Ternyata investasi reksa dana bisa dimulai dengan dana sekecil Rp100.000!

Jadi, tidak ada lagi alasan untuk tidak memulai investasi karena nggak ada modal, dong 😆

Investasi atau usaha melipatkgandakan aset dengan harapan mendatangkan keuntungan di masa depan sebenarnya sudah dikenal sejak zaman dulu. Pada masa orangtua dan kakek-nenek kita masih produktif, investasi yang paling umum dilakukan adalah membeli tanah dan menjualnya kembali beberapa tahun kemudian di saat harga tanah tersebut sudah naik.

Ada juga yang berinvestasi dengan emas. Skemanya serupa seperti berinvestasi dengan tanah. Membeli emas dengan harga per gram, lalu menjualnya kembali di masa mendatang saat butuh uang.

Kini, berinvestasi dapat dilakukan dengan cara yang praktis dan legal dengan imbal hasil yang tidak kalah menguntungkan (bahkan kadang lebih untung!), yaitu dengan reksa dana.

Nah, sebelum mulai, ini pertanyaan yang paling sering saya dapatkan dari beberapa teman: “Memangnya harus ya investasi?”

Jawabannya, ya harus. Apa pun cara yang akan kita tempuh, mengakumulasikan aset untuk kebutuhan hidup di masa mendatang atau demi memenuhi kebutuhan tak terduga dan mendesak tetap mesti disiapkan oleh tiap individu. Tujuannya satu, yakni agar mampu hidup mandiri dan tidak menyusahkan orang lain.

So, shall we start?

 

Kenapa berinvestasi itu penting?

Dari banyaknya alasan kenapa berinvestasi itu penting, saya pernah dapat penjelasan yang “kena” banget dari Ligwina Hananto, teman yang berprofesi sebagai perencana keuangan independen (Thanks for opening my eyes, Win!):

“Kenaikan harga barang di Indonesia akibat inflasi 5-10% per tahun, sedangkan bunga tabungan 0-2% per tahun. Lama-lama gaji lo dan tabungan lo nggak ngejar untuk mencukupi kebutuhan!”

‘Kan ada deposito.

Nah, kisaran bunga deposito pun tidak tinggi, hanya sekitar 4-8% per tahunnya. Tetap nggak cukup untuk melawan laju inflasi.

‘Kan kita masih kerja—masih terima gaji tiap bulan.

Terus, kalau sudah pensiun, bagaimana? Dengan adanya inflasi tiap tahun, pengeluaran bulanan tahun ini yang besarnya 10 juta akan setara nilainya dengan 80 juta beberapa puluh tahun kemudian—itu di saat kita sudah berusia 70 tahunan, lho. Sudah tidak produktif lagi.

Dari sini, saya jadi paham kenapa dulu Kakek dan Nenek menjual beberapa tanah yang mereka miliki dari waktu ke waktu. Tujuannya tak lain untuk memenuhi kebutuhan hidup di saat sudah tidak bisa menghasilkan lagi. Di masa tua mereka.

 

Pilihan saya: reksa dana

Apa itu reksa dana?

Jadi, penjelasan umumnya adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk kemudian diinvestasikan oleh manajer investasi ke dalam beberapa instrumen investasi (saham, obligasi, deposito).

Cara kerja reksadana kira-kira seperti ini:

Blog Sittakarina - Cara Berinvestasi Reksa Dana 2

Gambar: OJK – Reksadana

Saya memilih reksa dana karena tahu bahwa modal yang saya setorkan untuk berinvestasi dikelola secara profesional oleh manajer investasi. Oleh karena itu, saya pun memastikan bahwa manajer investasi dari produk-produk reksa dana yang saya pilih terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Ini untuk menghindari terjerumus ke dalam investasi bodong yang belakangan kian marak.

Cara kerja reksadana itu gimana sih?

Mengutip dari penjelasan di situs resmi tentang reksadana kelolaaan OJK, saat kita sebagai investor menyetorkan dana kita ke manajer investasi (MI), MI tersebut akan menginvestasikannya ke dalam beberapa instrumen investasi, misalnya ke dalam saham Unilever, ke surat utang/obligasi Bank Mandiri, maupun ke dalam deposito berjangka. Informasi mendetail tentang dana kelolaan, ke mana diinvestasikan, siapa bank kustodian, dsb tercantum dalam lembar Prospektus dan Fund Fact Sheet yang dapat diakses secara online.

Pada dasarnya, tiap produk reksa dana memiliki harga yang berbeda satu sama lain. Harga tersebut disebut Nilai Aktiva Bersih (NAB). Idealnya, NAB ini akan berkembang dari waktu ke waktu seiring dengan kinerja masing-masing reksa dana

Patut kita ingat bahwa semua jenis investasi pasti ada risikonya, termasuk reksadana.

Risiko tersebut antara lain berkurangnya nilai investasi akibat turunnya harga efek (saham, obligasi, maupun deposito) sampai bangkrutnya saham dan obligasi yang menjadi portofolio reksadana pilihan kita. Jadi, pelajari dulu risiko-risiko tersebut, termasuk sejauh mana kita sanggup menanggung kerugiannya.

Sebagai contoh, pada tahun 2012 saya memiliki modal Rp1.000.000 dan membeli produk reksadana XYZ dengan NAB Rp1.250 per unit, maka didapat nilai kepemilikan reksadana XYZ saya sebanyak = Rp1.000.000 : Rp 1.250 = 800 unit. Lima tahun kemudian (tahun 2017), saya menjual seluruh unit reksadana XYZ dengan harga saat itu Rp3.000 per unit hingga didapat = Rp3.000 x 800 unit = Rp2.400.000. Maka, keuntungan yang saya dapatkan sebesar Rp1.200.000.

 

Pilih reksadana jenis apa?

Satu ajaran yang saya ingat adalah pilihan produk reksa dana berkaitan dengan jangka waktu investasi. Berdasarkan kriteria itu jugalah, reksa dana secara umum dibagi dalam 4 jenis:

  • Reksa dana pasar uang (isi portofolio 100% deposito dan obligasi; jangka waktu investasi: kurang dari 1 tahun)
  • Reksa dana pendapatan tetap (isi portofolio sebagian besar obligasi; jangka waktu investasi: 1-3 tahun)
  • Reksa dana campuran (isi portofolio 79% saham, obligasi, deposito; jangka waktu investasi: 3-5 tahun)
  • Reksa dana saham (isi portofolio minimal 80% saham; jangka waktu investasi: 5 tahun ke atas)

Jika 3 tahun lagi kita ingin membeli rumah dan tengah menyiapkan dana DP KPR-nya, maka kita dapat memilih reksa dana pendapatan tetap sebagai produk untuk melakukan investasi rutinnya.

 

Sisihkan (minimal) Rp100.000 tiap bulan!

Lalu, di mana ya beli dan jual produk reksa dana ini?

Setelah mencoba beberapa agen penjual, akhirnya pilihan saya jatuh pada IPOTGO dari Indopremier Sekuritas. Tinggal daftar secara onlineprint dokumen-dokumennya, lalu kirim ke kantor Indopremier. Untuk transaksi pun bisa melalui ponsel. Download dulu aplikasinya via Google Play (Android) atau App Store (iOS) untuk dapat melihat kinerja tiap produk reksa dana, membandingkan kinerja reksa dana satu dengan yang lain, sampai melihat untung-rugi dari investasi yang sudah kita lakukan.

Selain itu, yang bikin makin suka dengan platform ini adalah tidak adanya biaya pembelian dan biaya penjualan reksa dana! Padahal, biasanya ini diterapkan di agen penjual lain 😍

Setelah punya akun di IPOT, rumuskan tujuan investasimu Bagi dalam 3 rentang waktu: jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Lalu, mulai sisihkan minimal Rp100.000 tiap kali gajian. Terus begitu sampai akhirnya kamu mampu menyisihkan 40% dari penghasilanmu (dan pasangan) untuk berinvestasi.

 

Siapkan dana pensiun dari sekarang

Ambil asumsi pengeluaran bulanan kita sekitar 10 juta dengan usia kita saat ini 25 tahun. Rencananya, kita akan pensiun dari pekerjaan di usia 55 tahun. Jadi, kita masih punya waktu sekitar 30 tahun untuk menyiapkannya. Karena jangka waktunya cukup lama, kita bisa berinvestasi di reksadana saham secara berkala tiap bulannya. Setelah menghitung pakai kalkulator pensiun dengan tingkat inflasi tahunan di Indonesia 5%, profit investasi yang diharapkan sebesar 20%, serta masa hidup setelah pensiun selama 30 tahun, maka didapat hasil investasi bulanan yang harus kita lakukan adalah 2,2 juta!

Yup, 2,2 juta tiap bulan selama 30 tahun agar bisa hidup sejahtera saat pensiun nanti.

Itu hanya untuk perencanaan pensiun saja.

Bagaimana dengan dana DP KPR, dana pendidikan anak, dana liburan, dana perjalanan ibadah, dan beberapa tujuan finansial lain yang ingin kita capai? Kita bisa gunakan perencanaan serupa dan memilih reksadana yang sesuai dengan jangka waktu pencapaiannya. Bedanya, untuk tujuan finansial selain dana pensiun, yang dipakai adalah kalkulator investasi ini.

Rajin berinvestasi itu ibarat bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.

Hasil manisnya akan kita nikmati saat investasi tersebut memberikan keuntungan sesuai rencana kita.

Membiasakan gaya hidup minimal demi porsi investasi yang lebih besar sama saja dengan menunda kenikmatan. Apa yang kita tanam sekarang akan kita tuai di kemudian hari dan menjadi jaring pengaman saat kehidupan tak lagi seideal saat ini.

Saat ini apa tujuan investasi yang paling ingin kamu capai, dan sudah sampai mana prosesnya? 💰💰💰

 

*) Feature image: @elizaellen


Tags:


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


8 Responses

  1. aro

    Hai kak Sitta! Infonya menarik banget, terkait investasi, apakah kak sitta ada ketertarikan ke stock & bond atau kah tetap di reksadana?

  2. Lintang – Setahu saya kita bisa tetap buat NPWP dengan sebelumnya minta surat keterangan dari kelurahan ttg status pekerjaan kita saat ini. Baiknya diisi sebagai pekerja lepas (freelance), bukannya tidak bekerja sama sekali. Coba googling ttg cara membuat NPWP bagi yang belum bekerja, deh. Good luck!

  3. Lintang Dewi

    halo kak, saya tertarik dengan reksadana. tapi sekarang saya masih mahasiswa dan belum mempunyai npwp (which is salah satu syarat reksadana) lalu bagaimana ya?

  4. Wahyuindah – Sama-sama. Sebelum mulai, perbanyak info dulu tentang reksa dana, termasuk untung-ruginya ya

  5. wahyuindah

    Makasih infonya kak. Saya memang dengar soal reksadana. tapi tidak tahu soal bagaimana cara kerjanya. Jadi ada pikiran untuk ikut inves nih. thanks a lot ya kak…