Jangan Tunda Lakukan Self-Care untuk Dirimu


Blog Sittakarina - Jangan Tunda Lakukan Self-Care

Self-care is totally not selfish.

Kebanyakan orang kerap skeptis melihat orang lain bersenang-senang atau sekadar menikmati momennya dengan cara mereka sendiri. Nge-gym pulang kantor atau kongkow pas weekend dibilang nggak peduli keluarga.  Ada saja nada menghakimi yang tercetus berdasarkan apa yang sekilas terlihat saja. Padahal, di balik kejadian tersebut, bisa saja itu satu-satunya cara yang mungkin dilakukan demi hidup yang “waras” setelah seharian jadi sapi perah di kantor, sampai rumah anak sudah keburu tidur, dan akhir pekan dipenuhi berbagai family obligation yang sering kali tak dapat dihindari.

Iya, jadi waras itu pilihan. Untuk ikhlas pun butuh waktu. Yang paling masuk akal dilakukan saat ini adalah kedepankan self-care.

Perhatikan dan penuhi kebutuhan diri sepantasnya.

Jangan sampai kayak Keke yang semua berawal dari celetukan temannya:

“Minggu pagi begini udah asyik aja lu ngopi sambil baca buku sendirian di Starbucks. Anak dan suami siapa yang ngurus?”

Mendengar itu, Keke kontan panik sekaligus meradang, seolah-olah yang temannya katakan benar. Padahal, tiap hari Keke mesti juggling antara kerja di perusahaan asuransi dan memastikan kedua putri kembarnya paham pelajaran di sekolah. Dua kali dalam seminggu Keke berusaha pulang kantor lebih cepat demi mendampingi Kintan dan Kania review pelajaran, terutama matematika.

Selain itu, Keke yang tiap hari rasanya butuh lebih dari dua cangkir kopi agar bisa melek di kantor, setengah mati menjaga hubungannya dengan suami, Randy, yang masih sulit lepas dari dominasi mamanya (ditambah sang mama yang selama ini kasih soft loan untuk DP rumah pertama mereka).

Baca juga: Jadikan Quarter Life Crisis Batu Loncatan dalam Hidupmu

Sakit maag Keke kerap kambuh lantaran perut cuma diisi kopi dan junk food seadanya. Berat badan pun perlahan-lahan bertambah, membuatnya jauh dari figur ramping saat menjadi finalis None Jakarta beberapa tahun silam.

Suatu hari Keke menangis tersedu-sedu di bawah tangga rumah dan dipergoki Randy yang pulang kantor lebih larut darinya. Randy sedih mendengar pengakuan istrinya, terutama saat Keke merasa ia tidak semenarik dan se-happy dulu.

Merasa ikut bertanggung jawab terhadap keadaan ini, Randy mendukung penuh upaya Keke menemukan kembali dirinya yang hilang, dimulai dengan mengikuti program wellness yang bagi sebagian besar pria dianggap “cuma buang-buang duit”, namun Randy tahu ini langkah berarti untuk sang istri.

Jangan tunggu jadi remuk-redam seperti Keke.

Atau, jika ini kondisimu sekarang, jangan tunda lagi untuk menerapkan self-care yang sebenarnya merupakan kebutuhan esensial tiap individu:

  1. Penuhi kebutuhan fisik dulu. Salah satu salah kaprah soal self-care adalah ini semata melakukan hal-hal yang kita suka aja, misalnya baca buku, liburan, atau ngopi di kafe. Padahal, esensi utama self-care adalah diri mendapatkan haknya untuk dirawat, yakni dengan cukup tidur, makan makanan sehat, sampai meluangkan waktu untuk berolahraga.
  2. Don’t forget to nurture your soul. Dengarkan kebutuhan diri; bukan sekadar memuaskan keinginan demi keinginan saja yang tak pernah ada habisnya. Menjauh, atau setidaknya batasi interaksi dengan toxic people. Dan pastikan di sekeliling kita adalah orang-orang yang tak hanya menyayangi, tapi juga menghargai kita seutuhnya.
  3. Latih mental agar kuat. Ini berbeda dengan bersikap keras tanpa ampun, baik ke diri sendiri maupun ke orang lain. Menempa mental sebenarnya sederhana; latihannya didapat dari kejadian dan ujian yang bergulir tiap hari. Life is always the best teacher. Cara kita menanggulangi semua itulah yang menjadi penentu; apakah kita akan jadi semakin bijak, angkuh, baper, atau malah caper. Mental yang kuat membuat kita lebih tangguh menghadapi segala kesulitan dan ketidakpastian dalam hidup. Hasilnya, diri nggak mudah break down!
  4. Lakukan sesuatu yang kamu sukai. Setelah semua kewajiban dituntaskan, sudah sepantasnya kita mendapatkan hak kita ‘kan? Walau hanya sebentar, sempatkan diri melakukan sesuatu yang kita sukai—dan tutup kuping terhadap komentar sirik orang lain. Kegiatan favorit saya belum tentu jadi pilihan orang lain, dan begitu juga sebaliknya 😄

Bagi saya, kurang tepat jika self-care hanya dimaknai sebagai upaya memanjakan diri setelah bekerja keras. Self-care merupakan cara kita merawat dan mengembangkan diri agar tak sekadar bertahan hidup, namun juga mampu menikmati sekaligus memetik hikmah dari kehidupan yang kita jalani.

Berat?

Nggaklah kalau pelan-pelan. Yuk, mulai dari yang paling bisa kita lakukan dulu 😉

 

*) Feature image: Michelle Janeen


Tags: ,


Leave a Comment

  • (will not be published)

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>


3 Responses

  1. terimakasih mbak sitta karena selalu mengingatkan saya untuk menjadi positif. keep inspiring!

  2. Pas lagi introvert hang over, eh baca postingan ini. Berasa dapet kekuatan, ga salah kok manjain diri setelah bersusah payah. Demi kesehatan jasmani dan rohani. Love. Love banget artikelnya mba.